Kali ini saya ingin bercerita. Singkat saja.
Di satu malam saya berkenalan dengan seorang Akhwat di Transjakarta. Beliau hari itu selesai belajar Bahasa Arab di Halaqah ustadz Nursamsul Qomar dan kajian rutin Kitab di masjid yang sama. Beliau Bercadar.

Mengobrol santai, ternyata beliau lulusan S1 Psikologi dan sempat bekerja sebagai HR. Tapi tidak lama setelah mengenal manhaj salaf beliau berhenti bekerja dan fokus untuk mendalami agama. Kesehariannya setelah itu berubah, beliau  menjaga toko di tempat kakaknya, sambil menghadiri kajian-kajian kitab Rutin dan belajar bahasa Arab.
2, 3, sekian menit kemudian masuk ke perbincangan tentang Manhaj salaf. Beliau bertanya kepada saya, "Udah berapa lama hijrah ke manhaj salaf?"

Saya jawab. Bilangan  yang sedikit pastinya. Kemudian apa respond beliau?
"Wahh masih baru, pasti lagi semangat semangatnya belajar ya?"
Lalu beliau menambahkan, "Saya juga termasuk belum lama, Tapi gatau Nanti kita gimana kalo udah 10 tahun, 15 tahun. Belum tentu sesemangat ini."

- & -

Credit: Pinterest

Paham maksudnya beliau?
Iya, karena nanti di tahun ke-10, ke-15 dst setelah kita mengenal manhaj salaf, mungkin kita akan mulai merasa sudah banyak ilmu yang dipelajari, sudah banyak ilmu yang diulang-ulang, sudah banyak ilmu yang dipaham.

Jujur, saya belum pernah berpikir seperti itu sebelum beliau berbicara hal demikian kepada saya.
Subhanallah.....

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada 3 tahapan dalam menuntut ilmu agama,
Tahap pertama, fase dimana seorang penuntut ilmu  merasa sombong.
Tahap kedua, merasa tawadhu (rendah hati) terhadap yang dimiliki.
Tahap ketiga, merasa dirinya tidak ada apa-apanya.

Saya yakin semua penuntut ilmu akan mengalami tahap pertama kecuali yang Allah bimbing hati mereka. Tetapi siapapun yang memasuki tahap pertama, tidak semua mampu merangkak memasuki tahap kedua apalagi ketiga. Dan itu tidak bergantung terhadap berapa lama seorang penuntut ilmu itu telah belajar.

Pemicu dari penyakit ini adalah kesalahan niat dalam menuntut ilmu. Tidak pernah memeriksa keikhlasan niatnya sehingga kesombongan terus bersarang dan bahkan seseorang tersebut belum mampu melewati tahap pertama walaupun sudah berpuluh-puluh tahun belajar.

Maka benarlah jika dikatakan "Menuntut ilmu adalah pekerjaan seumur hidup".
Karena bukan hanya ilmu itu sendiri yang harus kita pelajari, tapi semua yang meliputi ilmu tersebut harus dipelajari, termasuk cara menyikapi ilmu tersebut.
Terlebih setinggi apapun level kita, pasti ada ilmu yang belum kita ketahui. Tidak ada yang lebih mengetahui sesuatu kecuali Allah, dan yang paling paham tentang diinul islam adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

10 tahun nanti atau lebih lama lagi, jika penyakit itu datang maka jangan biarkan kita terlena dan berhenti belajar, karena jika berhenti artinya kita gagal menjadi penuntut ilmu.

Ini catatan untuk kita:
Kita masih 'anak baru', selagi masih awal waktu mari kita perbaiki niat kita dalam menuntut ilmu. Selalu koreksi niat kita. Selalu perbaiki niat kita.
Juga semangatlah dalam mendalami agama ini. Karena dengan ini akan ada banyak kebaikan yang kita panen.
Jika saat ini kita si 'anak baru' tidak semangat belajar, hanya menghadiri kajian-kajian tematik, tidak bersemangat meluangkan waktu untuk mengikuti kajian-kajian kitab, malas mengulang yang telah dipelajari, bagaimana nanti keadaan kita di 10 tahun kedepan? 15 tahun? 20? 30?

Khawatirlah suatu hari Allah cabut hidayah yang mulia ini dari diri kita. Untuk itu kita harus berjuang untuk selalu tegak berdiri di atas jalan salaf, satu-satunya jalan yang selamat.