Amir bin Abdullah At-Tamimi (w. 675 M/55 H)
berhijrah dari kota Nejd menuju Bashrah. Ketika itu Amir bin Abdullah
masih di permulaan masa mudanya, berkulit halus, bermuka ceria, berjiwa bersih
dan bertakwa hatinya. Akan tetapi walau jiwanya muda, ia tidak terlalu tertarik
dengan dunia dan kemegahannya. Terbukti sekalipun ia berada di negeri kaum
Muslimin yang paling kaya dan banyak harta karena melimpahnya harta rampasan
perang, ia hanya fokus berharap dengan apa yang ada di sisi Allah. Dia
berpaling dari dunia dan perhiasannya seraya menyongsong Allah dan
keridhaan-Nya.
![]() |
| Credit: Pinterest |
Suatu hari aku bepergian bersama rombongan yang
di dalamnya ikut juga Amir bin Abdullah. Ketika malam telah tiba, kami singgah
di hutan. Lalu Amir mengemasi barang-barangnya, mengikat kudanya di pohon,
melonggarkan talinya, mengumpulkan rumput untuk makanan kudanya dan diletakkan
didepannya, lalu dia masuk ke hutan dan menghilang dari pandangan. Maka aku berkata
di dalam hati, "Demi Allah, aku akan mengikuti dia dan aku akan melihat apa yang
dia perbuat di dalam hutan pada malam hari seperti ini." Dia terus berjalan
hingga menemukan gundukkan tanah yang dinaungi pohon dan tertutup dari
pandangan mata. Dia lalu menghadap kiblat, dan berdiri tegak melakukan shalat.
Aku belum pernah melihat shalat yang lebih bagus, lebih sempurna dan lebih
khusyu' daripada shalatnya.
Setelah dia melakukan seberapa banyak shalat yang
bisa dia kerjakan mulailah dia berdoa dan bermunajat kepada Allah. Diantara
ucapannya adalah "Ya Tuhanku, Engkau telah menciptakanku dengan
perintah-Mu dan Engkau jadikan aku berada dalam berbagai cobaan dunia ini
dengan kehendak-Mu , kemudian Engkau berkata kepadaku, 'Tahanlah nafsumu!'
Bagaimana aku bisa menahannya jika Engkau tidak menahanku dengan kelembutan-Mu?
Wahai Dzat yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau
mengetahui, seandainya aku memiliki dunia ini dan seisinya, kemudian ia diminta
lagi dariku karena mengharapkan kerelaan-Mu, tentu aku akan berikan kepada
orang yang memintanya. Maka berikanlah jiwaku kepadaku, wahai Dzat Yang Maha
Penyayang. Ya Tuhanku, sesungguhnya aku mencintai Engkau dengan kecintaan yang
memudahkanku di dalam menghadapi segala keputusan-Mu. Aku tidak peduli karena
cintaku kepada Engkau akan jadi apa aku pada pagi hari, dan akan jadi apa aku
pada sore harinya."
Orang Bashrah itu menambahkan lagi ceritanya,
Kemudian aku diserang rasa kantuk lalu akupun
tertidur. Kemudian aku terus tidur dan bangun kembali sedangkan Amir masih
tegak di tempatnya melanjutkan shalat dan munajatnya hingga Shubuh menyingsing.
Dan setelah fajar nampak, dia menjalankan shalat wajib dan berdoa, "Ya Allah,
ini Shubuh telah datang, orang-orang mulai keluar dan pergi untuk mencari
karunia dari-Mu. Sesungguhnya masing-masing dari mereka mempunyai kebutuhan.
Dan sesungguhnya kebutuhan Amir di sisi-Mu adalah agar Engkau mengampuninya. Ya
Allah, penuhilah hajatku dan hajat mereka, wahai Dzat Yang Mahadermawan. Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau tiga hal; Engkau berikan dua
kepadaku dan Engkau tahan yang satu. Ya Allah berikanlah kepadaku supaya aku
dapat beribadah kepada Engkau sebagaimana yang aku sukai dan harapkan."
Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, lalu
dia melihatku, maka dia mengetahui di mana tempatku pada malam itu ketika
mengintipnya. Karenanya, dia merasa gelisah tidak karuan seraya berkata
kepadaku dengan nada sedih, "Aku melihatmu mengawasiku tadi malam, wahai
saudarakuyang dari Bashrah bukankah demikan?" Lalu aku menjawab, "Ya." Dia
berkata, "Tutuplah apa yang telah kamu lihat dariku, mudah-mudahan Allah
menutupi aibmu." Lalu aku berkata, "Demi Allah, ada dua pilihan; engkau
informasikan kepadaku tiga hal yang engkau mohonkan kepada Tuhanmu atau aku akan
beritakan kepada orang-orang apa yang aku lihat dari engkau." Maka dia
berkata, "Aduh jangan kamu lakukan itu." Aku berkata, "Keputusanku seperti apa
yang ku katakan tadi padamu." Dan ketika dia menyadari kengototanku, dia
berkata, "Aku akan memberitahumu, tetapi kamu harus berjanji dengan Nama Allah
bahwa kamu tidak akan memberitahukan kepada siapapun." Maka aku berkata, "Baik,
aku berjanji bahwa aku tidak akan memberitahukan rahasiamu kepada siapa pun
selama engkau masih hidup."
Lalu dia berkata, "Tidak ada yang aku lebih
takutkan pengaruhnya terhadap agamaku selain perempuan maka aku memohon kepada
Tuhanku supaya Dia mencabut dari hatiku kecintaan kepada perempuan, lalu Allah
mengabulkan doaku, sehingga aku tidak peduli apakah perempuan yang kulihat ataukah
dinding." Maka aku berkata, "Ya, ini baru pertama. Lalu apa yang kedua?"
Dia berkata, "Yang kedua, aku memohon kepada
Tuhanku supaya aku tidak takut kepada siapa pun kecuali Dia, lalu Allah
mengabulkan doaku, sehingga Demi Allah, aku tidak merasa takut kepada sesuatu
pun di bumi dan di langit selain Allah." Aku berkata, "Lantas apa yang ketiga?"
Dia berkata, "Aku memohon kepada Allah supaya Dia
menghilangkan tidur dariku, supaya aku dapat beribadah pada malam dan siang hari
sekehendak hatiku, namun Allah tidak mengabulkan permintaanku yang ketiga ini."
Ketika aku mendengarnya, aku berkata kepadanya, "Sayangilah dirimu, karena engkau mengisi malammu dengan shalat dan siangmu
dengan berpuasa. Dan sesungguhnya surga akan dapat dicapai dengan yang lebih sedikit
dari apa yang kau perbuat dan sesungguhnya neraka akan dapat dihindari dengan
yang lebih sedikit dari apa yang engkau lakukan."
Lalu dia berkata, "Sesungguhanya aku sangat
khawatir bila aku menyesal pada hari dimana penyesalan tidak lagi berguna. Demi
Allah, sungguh aku akan bersungguh-sungguh dalam beribadah selama aku mampu
untuk mengupayakannya. Jika aku selamat, maka itu karena rahmat dari Allah. Dan
jika aku masuk neraka, maka itu adalah karena keteledoranku."
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kisah lain yang dinukilkan tentang kezuhudan Amir
bin Abdullah adalah ketika suatu hari ghanimah dari perang al-Qadisiyah sedang
dihitung dan disaksikan oleh kaum Muslimin, tiba-tiba ada seorang yang kumal
dan lusuh datang menghadap mereka dengan membawa wadah perhiasan yang besar dan
berat, dia mengangkatnya dengan kedua tangannya. Orang-orang yang bertugas
mencermatinya, ternyata benda itu adalah kotak yang mereka belum pernah
melihatnya sama sekali, dan dari sekian banyak yang telah mereka temukan tidak
ada yang sebanding dan menyamainya.
Lalu mereka melihat isinya, ternyata kotak itu
penuh dengan intan dan mutiara yang indah. Maka mereka pun berkata kepada orang
itu, "Dari mana kamu dapatkan kotak berharga ini?" Orang itu menjawab. "Aku
dapatkan dalam peperangan ini ditempat anu." Lalu mereka berkata, "Apakah kamu
telah mengambil sesuatu darinya?" Maka orang itu menjawab, "Demi Allah sungguh
wadah perhiasan ini dan seluruh apa yang dimiliki raja-raja Persia bagiku
tidaklah sebanding dengan sepotong kuku pun. Dan seandainya bukan karena hak
baitul mal kaum Muslimin aku tidak akan membawanya pada kalian." Lantas mereka
bertanya, "Sebenarnya siapa engkau ini? Semoga Allah memuliakanmu." Maka orang
itu menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan memberi tahu kalian, nanti kalian
memujiku, dan aku tidak akan memberi tahu kepada selain kalian nanti mereka
menyangjungku. Akan tetapi aku memuji Allah dan hanya mengharapkan pahala-Nya."
Kemudian orang itu pergi meninggalkan mereka.
Lalu mereka menyuruh salah seorang dari mereka untuk membuntutinya dan
menyampaikan informasi tentangnya. orang itu terus berjalan di belakangnya
sedangkan dia tidak menyadarinya, hingga dia menjumpai para sahabatnya. Ketika
dia bertanya kepada mereka tentang nya, mereka berkata, "Apakah engkau tidak
mengenalnya? Dialah ahli Zuhud kota Bashrah ini, Amir bin Abdullah at-Tamimi."
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Amir bin Abdullah atas anjuran Utsman bin Affan
dipindahkan ke negeri Syam yang saat itu dibawah kepemimpinan Mu'awiyah bin Abu
Sufyan -Radhiallahu 'anhuma- dikarenakan banyaknya fitnah dan isu-isu
miring yang ditujukan kepadanya. Pada hari dimana Amir bin Abdullah
meninggalkan kota Bashrah, keluarlah orang banyak dari kalangan saudara dan
murid-muridnya untuk melepasnya. Mereka mengiringinya hingga sampai ke
Al-Mirbad (suatu tempat diluar Bashrah). Disana Amir berkata kepada mereka, "Aku akan berdoa, maka aminkanlah doaku."
Semua orang fokus padanya, kemudian Amir
mengangkat kedua tangannya dan berdoa,
"Ya Allah, siapa saja yang mencaci dan
memfitnahku, sehingga aku keluar dari negeriku dan memisahkan aku dengan
sahabat-sahabatku, sungguh aku telah memaafkannya, maka maafkanlah dia. Dan
berilah ia kesehatan dalam agama dan dunianya. Dan liputilah saya, dia dan kaum
Muslimin lainnya dengan rahmat-Mu, ampunan-Mu dan kebaikan-Mu, wahai Dzat Yang
Maha Pengasih."
Amir bin Abdullah menghabiskan sisa umurnya di
Syam dan memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggalnya. Ketika dia sakit yang
menyebabkan ia meninggal dunia, sahabat-sahabatnya datang menjenguk dan
mendapatinya sedang menangis. Maka mereka berkata, "Apa yang membuatmu
menangis? Engkau adalah orang yang berlaku begini dan begitu (mereka
menyebutkan amal baiknya)." Amir menjawab, "Demi Allah, aku menangis
bukan karena memikirkan dunia dan takut mati. Akan tetapi, aku menangis karena
jauhnya perjalanan dan sedikitnya bekal, dan aku berjalan di antara jalan naik
dan turun; menuju surga atau neraka. Dan aku tidak tahu ke mana akhirnya aku
berada."
Kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya,
sedangkan lisannya basah dengan dzikir kepada Allah. Disana, di kiblat pertama
dari dua kiblat, di masjid suci yang ketiga, tempat Isra' Rasulullah
-shallallah 'alaihi wa sallam- Amir bin Abdullah bertempat tinggal -semoga
Allah merahmatinya-.
Mudah-mudahan Allah menyinari kuburan Amir bin
Abdullah dan menyejukkan wajahnya di surga abadi. Aamiin...
---
Diringkas dari buku berjudul Shuwar min
Hayat At-Tabi'in karya Dr. Abdurrahman Ra'fa Al-Basya (terjemahan: Para Tabi'in
Rahimahullah, kisah perjuangan dan keteladanan)

0 Komentar