Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, Yaitu Sikap Melampaui Batas Kepada Orang Shalih (1)

Salah satu sebab terjerumusnya manusia dalam  kesyirikan adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dan memuliakan orang shalih.

Firman Allah  Ta’ala:

دِينِكُمْ فِى تَغْلُوا۟ لَا ٱلْكِتَٰبِ يَٰٓأَهْلَ 
“ Wahai Ahli Kitab, Janganlah kalian melampaui batas (yang telah ditentukan Allah) dalam agama 
kalian.” [An-Nisa`: 171] 

Allah melarang ahlul kitab (orang-orang Nashrani dan orang-orang Yahudi) untuk melampaui batas terhadap ketentuan yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Yaitu dalam ayat ini, agar mereka tidak mengangkat makhluk pada kedudukan yang melebihi kedudukan yang telah Allah tetapkan, dan agar mereka tidak mendudukkan makhluk pada kedudukan yang tidak pantas ditempati oleh siapapun, kecuali Allah Ta’ala.

Pada ayat ini, terdapat larangan terhadap sikap ghuluw (berlebih-lebihan) secara mutlak, sehingga yang termasuk dalam cakupannya adalah ghuluw terhadap orang-orang shalih. Meskipun ayat tersebut ditujukan kepada ahlul kitab, ungkapan tersebut sesungguhnya berlaku secara umum yang menjangkau seluruh umat manusia, sebagai peringatan bagi mereka seupaya mereka tidak memperlakukan Nabi mereka dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagaimana perlakuan orang-orang Nashrani kepada Nabi ‘Isa alaihissalam dan orang-orang Yahudi kepada ‘Uzair.


Source : Google
Source : Google
دِينِكُمْ فِى تَغْلُوا۟ لَا “Janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian”, artinya jangan kalian melampaui batas dari apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian. Maka orang-orang Nashrani telah berlebihan terhadap Nabi ‘Isa dan orang-orang Yahudi telah berlebihan kepada ‘Uzair.


Fawaid Ayat

1. Diharamkannya sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap individu-individu pada amalan-amalan dan pada selainnya.

Pada ayat ini, yang disebut adalah ahlul kitab, tapi ini adalah perintah juga untuk kaum muslimin karena kita tidak boleh mengikuti kaum kafir.

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]


2. Bantahan terhadap orang-orang Nashrani, orang-orang Yahudi, dan yang menyerupai mereka dalam sikap ghuluw mereka terhadap seseorang pada amalan-amalan dan yang selainnya.

Nashrani mengatakan bahwa ‘Isa adalah anak Allah;

Yahudi mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah;

Mereka mengikuti pemuka agama mereka walaupun mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram;

Mereka juga membangun kuburan para tokoh-tokoh mereka. Dibuat megah dan diperuntukkan sebagai tempat ibadah;

Dalam hal amalan Nashrani menyembah Rasul yang diutus, dan Yahudi justru meremehkan nabi dan menyembah orang yang dianggap shalih.


3.  Anjuran untuk senantiasa bersikap pertengahan dalam beragama dan dalam segala urusan, yaitu antara dua sikap: Sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan.

“Dan demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan...” (Al-Baqarah: 143)

Juga berkata para ulama’ bahwa ‘sebaik-baik perkara adalah pertengahannya.’

Tapi, makna pertengahan adalah sesuai syari’at: Yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah.


4.   Peringatan terhadap perbuatan syirik, sebab-sebabnya dan perkara-perkara yang mengantar pada kesyirikan.

Perkara-perkara yang mengantarkan kepada syirik merupakan syirik kecil, termasuk sikap ghuluw. Ghuluw menjadikan Nashrani dan Yahudi terjerumus pada kesyirikan.

 

Inilah Diinul-Islam, ketika Allah haramkan suatu perkara, maka Allah haramkan pula perkara-perkara yang mengantarkannya pada perkara haram tersebut. Seperti Allah haramkan zina, Allah haramkan pula perkara-perkara yang mendekatkan diri pada zina.

 

Dan ingatlah! Syirik kecil adalah dosa yang lebih besar dibanding dengan dosa meninggalkan shalat, dosa zina dan dosa-dosa besar lainnya.

 

Maka berhati-hatilah! Semoga Allah selamatkan kita dari kesesatan. Semoga Allah juga berikan hidayah kepada kaum muslimin yang berbuat ghuluw terhadap orang-orang shalih.